Jubir Wiku: Ada Capaian Positif Tingkat Kesembuhan Terjadi di Berbagai Daerah

TK / Nasional / Jumat, 25 September 2020, 11:26 WIB

Jubir, Wiku Adisasmito, dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Provinsi DKI Jakarta, Kamis (24/9). (Foto: BPMI)

JAKARTA - Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menyampaikan bahwa angka kesembuhan pasien Covid-19 pada pekan ini menunjukkan pencapaian positif, ada kenaikan sebesar 35,8% dan pencapaian positif ini terjadi di berbagai daerah.

“Persentase kesembuhan nasional Agustus lalu sebesar 72,87%, dimana angka itu merupakan pencapaian positif karena melebihi angka dunia,” ujar Jubir, Wiku Adisasmito, dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Provinsi DKI Jakarta, Kamis (24/9).

Melihat data terkini per 24 September 2020, pasien sembuh sudah mencapai 191.853 kasus (73,2%), penambahan kasus baru 4.634 kasus, kasus aktif ada 60.064 (22,9%), dan kasus meninggal 10.105 (3,9%). Sementara rata-rata kasus aktif dunia 23,16%, kasus sembuh 73,77% dan kasus meninggal 3,05%.

Menurut analisa mingguan per 20 September, Wiku menyebut ada 5 provinsi yang pencapaiannya positif dengan angka kesembuhannya di atas rata-rata nasional. Yakni Maluku Utara dengan persentase kesembuhan 89,71%, Gorontalo 87,19%, Kalimantan Utara 86,09%, Kepulauan Bangka Belitung 84,89% dan Sulawesi Utara 83,51%.

Untuk provinsi dengan penyumbang angka kesembuhan tertinggi berada di DKI Jakarta naik 1.540 kasus, Jawa Barat naik 1.093 kasus, Jawa Tengah naik 845 kasus, Aceh naik 730 kasus dan Kepulauan Riau naik 247 kasus.

Wiku mengajak Pemda lain belajar dari 3 provinsi dengan persentase kesembuhan tertinggi. Maluku Utara (89,71%) sejak awal membagi penanganan pasien ringan dikarantina tersentral atau di hotel, gejala berat di rumah sakit. Lalu mendorong pasien menjaga kebugaran fisik dan konsumsi protein. Serta pendekatan kearifan lokal dan menjunjung slogan “Jaga Torang Pe Diri, Jaga Torang Pe Keluarga, Jaga Torang Pe Daerah”.

Gorontalo (87,19%) membedakan penanganan pasien gejala ringan dan berat. Penambahan vitamin pada pasien positif Covid-19 di rumah sakit. Tetapi pengelolaan stress dan olahraga pasien positif Covid-19 di rumah sakit. Serta pemberdayaan masyarakat hingga di tingkat desa dengan membentuk desa tanggung Covid-19 dan memantau pasien isolasi mandiri.

Kalimantan Utara (86,09%) melakukan penguatan kapasitas pemeriksaan sehingga kasus dapat ditangani sejak dini. Peningkatan jumlah laboratorium pemeriksaan dan dukungan pengadaan alat TCM dari provinsi. Disiplin protokol kesehatan sehingga menjaga usia rentan dan penderita komorbid agar terhindar penularan Covid-19, yang menyebabkan lebih banyak pasien tanpa gejala dan gejala ringan sehingga lebih cepat sembuh.

“Walau demikian janganlah kita berpuas diri karena pencapaian positif harus ditingkatkan terus menerus dan dipertahankan agar provinsi-provinsi tersebut dapat terbebas dari pandemi Covid-19,” ujarnya.

Di samping itu ia juga mengapresiasi dari 514 kabupaten/kota, hampir 70%-nya memiliki persentase kesembuhan di atas 50%. Selain itu terdapat 25 kabupaten/kota dengan kesembuhan 100%.

Wiku merincikan 25 kabupaten/kota kesembuhan 100% di antaranya Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, Kaur, Merangin, Tanjung Jabung Timur, Belitung, Belitung Timur, Kapuas Hulu, Kayong Utara, Sanggau, Sekadau, Banggai Kepulauan, Bolaang Mongondow Selatan, Buru Selatan, Seram Bagian Timur, Pulau Taliabu, Lembata, Nagekeo, Rote Ndao, Sikka, Sumba Barat, Timor Tengah Utara, Sarmi dan Waropen.

Sayangnya, ada ada 30 kabupaten/kota dengan kesembuhan di bawah 25%. Diantaranya Aceh Barat, Aceh Jaya, Simeulue, Aceh Tenggara, Pidie Jaya, Nias Barat, Nias Selatan, Mandailing Natal, Pesisir Selatan, Agam, Kota Bukit Tinggi, Kota Dumai, Indragiri Hulu, Lampung Timur, Tanggamus, Mesuji, Tulang Bawang, Mukomuko, Lebong, Bolaang Mongondow Timur, Waji, Donggala, Konawe Kepulauan, Manggarai, Alor, Malaka, Kepulauan Aru, Yalimo dan Manokwari Selatan.

“Provinsi dan kabupaten yang memiliki masalah dengan angka kesembuhan di bawah 25%, agar dapat meningkatkan 3T (tracing, testing, dan treatment), dan apabila memerlukan bantuan mohon segera menghubungi Satgas di pusat, agar kami bisa membantu angka kesembuhan meningkat baik terkait fasilitas di rumah sakit atau testing yang diperlukan atau tracing,” lanjut Wiku.

Waspadai Klaster Pengungsian Saat Musim Hujan

Datangnya musim penghujan di berbagai daerah berisiko terhadap penularan virus Covid-19. Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, musim hujan dapat menyebabkan bencana banjir.

Kebersihan lokasi pengungsian akan menjaga para pengungsi dari penyakit-penyakit lainnya yang bisa disebabkan oleh musim hujan di antaranya demam berdarah dengue, lepra, tifus, diare dan penyakit kulit.

“Semua penyakit ini dapat menurunkan imunitas sehingga masyarakat menjadi rentan tertular Covid-19. Jika tidak memungkinkan menjaga jarak, maka sebisa mungkin pemerintah setempat memastikan adanya sirkulasi udara yang baik, sinar matahari yang cukup dan memastikan kebersihan lokasi pengungsian,” imbaunya.

Nah masyarakat yang terdampak banjir harus tinggal di lokasi pengungsian sehingga terjadi kerumunan di lokasi-lokasi tersebut. Lokasi pengungsian katanya berpeluang menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Namun, kedisiplinan masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat dengan memakai masker, menjaga jarak serta mencuci tangan termasuk menjaga kebersihan dapat menekan potensi penularan tersebut,” jelasnya.

Masih soal klaster, pada klaster perkantoran ada peran kantor yang bisa membantu pemerintah. Kantor perlu transparan melaporkan kasus Covid-19 di lingkungannya kepada dinas kesehatan setempat. Lalu melakukan tracing lanjutan untuk menjaring kontak erat dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat.

Kantor juga harus memberi swab gratis bagi daftar kontak erat. Jika ditemukan kasus positif tambahan, segera merujuk dengan berkoordinasi dengan dinas kesehatan. Maka harus dirujuk ke rumah sakit khusus menangani Covid-19 dan biaya ditanggung pemerintah. Baik peserta BPJS Kes ataupun belum menjadi peserta termasuk warga negara asing (WNA).

“Bagi karyawan yang negatif, harus diperkenankan di rumah (WFH). Jika ditemukan kasus positif dalam jumlah banyak, maka kantor tersebut ditutup sementara untuk dilakukan disinfeksi,” imbaunya.

Sebagai langkah preventif, pihaknya menekankan pentingnya menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kantor dan pemilik usaha harus mengikuti peraturan pemerintah daerah terkait pembatasan pekerja yang diperbolehkan bekerja sesuai zonasi risiko. (*)

 

Berita Lainnya






Berita Terbaru