Pengusaha Yendra Fahmi Bangun Masjid, Batu Pertama Diletakkan Ketua MPR

TK / Nasional / Minggu, 17 November 2019, 18:17 WIB

Ketua Umum PP Muhammadiyah KH Haedar Nasir saat memberikan penghargaan kepada Yendra Fahmi saat peletakan batu pertama masjid H Yuliana di lokasi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (16/11/2019). | foto: ist

YOGYAKARTA - Masjid Hajah Yuliana di Kampus Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta dimulai pembangunannya. Batu pertama diletakkan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet).  Nama masjid ini diambil dari nama ibunda pengusaha nasional, Yendra Fahmi.  Sementara Ketua Tim Pengembangan Mu’allimin dimana masjid ini akan berdiri adalah adalah Buya Syafii Maarif. Hadir juga dalam acara ini, Ketua PP Muhammadiyah K.H.Haedar Nasir, Mantan Kapolri Jenderal (Purn.) Badrodin Haiti dan Kapolda DIY Irjen Pol.Ahmad Dofiri

"Masjid ini didesain untuk menampung  lebih dari 2.000 jama’ah. Yendra Fahmi, pengusaha asal Minang, membantu pembangunan masjid ini dengan biaya Rp 30.000.000.000 dari kantong pribadinya. Sebagai pengusaha sekaligus pengurus Muhammadiyah, Yendra telah turut serta dalam upaya untuk mencerdaskan anak bangsa," ujar Ketua Tim Pengembangan Mu’allimin, KH Ahmad Syafii Maarif, Sabtu (16/11/2019). 

KH Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii Maarif menyampaikan hal tersebut dalam acara peletakan batu pertama pembangunan masjid H Yuliana di lokasi pembangunan kampus baru Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Turut hadir Ketua PP Muhammadiyah KH Haedar Nasir dan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo.

"Sebuah usaha untuk membangun masa depan bangsa dalam jangka waktu yang tidak terkira," ujar Buya Syafii.

Diungkapkan oleh Buya Syafii Maarif, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta telah lebih dari seabad berkiprah mencerdaskan anak bangsa.

Para lulusannya telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan menunjukkan kiprah konkret, tidak hanya di lingkup Persyarikatan.

Sebagai sekolah kader Muhammadiyah, menurut Buya, Mu’allimin mendidik para siswanya untuk memiliki ketajaman wawasan kemanusiaan, bangsa, umat, dan Persyarikatan.

"Mengapa posisi madrasah ini menjadi semakin penting? Saya sebagai salah seorang alumnus madrasah ini pertengahan abad yang lalu merasakan betul bahwa pembentukan karakter dan akhlak mulia sangat ditekankan kepada para siswa. Kurikulumnya telah mengalami perubahan dan pengembangan dari masa ke masa," kata Buya. 

Menurut Buya, dilokasi Mu’allimin lama kini tidak lagi mampu menampung jumlah pendaftar yang terus bertambah dari hampir seluruh provinsi di tanah air.

Pengembangan Mu’allimin dari Kota Yogyakarta ke Kecamatan Sedayu, Bantul, menjadi harapan baru bagi kita agar lebih banyak lagi yang bisa menimba ilmu di madrasah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini.

"Di samping membangun gedung sekolah dan asrama yang baru, alhamdulillah, Mu’allimin di abad keduanya ini bisa memulai pembangunan masjid Hajah Yuliana sebagai bagian dari pengembangan madrasah di Argorejo, Sedayu, Bantul," tutupnya. (*)

 

Berita Lainnya






Berita Terbaru

Senin, 09 Desember 2019, 11:52 WIB

Dukung Ekspor Kakao, LPEI Resmikan Desa Kakao Devisa