Ribuan Warga Thailand Kembali Berdemo

TK / Internasional / Sabtu, 17 Oktober 2020, 19:08 WIB

Dok: istimewa

JAKARTA - Ribuan warga Thailand melakukan unjuk rasa di Bangkok untuk hari kedua, tidak mengindahkan dekrit darurat pemerintah, di tengah langkah pemerintah negara itu memblok akses petisi online Change.org.

Petisi itu berisi seruan agar Raja Maha Vajiralongkorn ditetapkan sebagai persona non grata di Jerman.

Polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran yang sebagian besar terdiri dari aktivis muda yang mencoba memukul mundur dengan payung-payung.

Sebagian melemparkan botol plastik, dalam unjuk rasa yang dilakukan di tengah larangan berkumpul.

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha memperingatkan jam malam mungkin akan diterapkan dan dia tetap menolak seruan untuk mundur.

Para pengunjuk rasa juga menuntut reformasi monarki Thailand dengan membatasi kekuasaan raja.

Kementerian perekonomian digital menyebutkan konten petisi di Change.org melanggar aturan akta kejahatan komputer Thailand.

Raja Vajiralongkorn dikritik para pengunjuk rasa karena menghabiskan lebih banyak waktu di Jerman sejak mulai bertahta pada 2016.

Petisi itu telah diisi oleh sekitar 130.000 penandatangan sebelum diblok oleh pemerintah.

Langkah itu dilakukan di tengah protes pro-demokrasi terbesar pertama dalam beberapa tahun terakhir.

Sekitar 2.000 orang pengunjuk rasa turun ke jalan di pusat kota Bangkok pada Jumat malam, media melaporkan.

Mereka membawa slogan bertuliskan "Bebaskan teman-teman kita", merujuk pada lebih dari 40 orang yang ditangkap minggu ini.

Kerumunan dengan cepat bertambah, dari beberapa lusin, menjadi ribuan, dipadati oleh komuter yang berhenti untuk bergabung dengan apa yang sekarang menjadi mood pemberontakan nasional dalam perjalanan pulang, lapor wartawan BBC Jonathan Head di Bangkok. Paduan suara umpatan terdengar, ditujukan pada perdana menteri.

Saat polisi mulai bergerak untuk membubarkan massa, para demonstran meneriakkan, "Keluar, keluar!"

Polisi menggunakan meriam air. Beberapa pengunjuk rasa mengatakan meriam air itu mengandung bahan kimia yang membuat mata mereka pedih - klaim yang belum diverifikasi secara independen.

"Saya harus berjuang untuk masa depan saya," kata seorang pengunjuk rasa berusia 22 tahun seperti dikutip oleh Reuters.

Sebagian besar pengunjuk rasa kemudian bubar. Beberapa orang yang mencoba melawan, ditangkap.

Penyelenggara unjuk rasa kemudian meminta massa untuk pulang dan mempersiapkan unjuk rasa massal berikutnya pada hari Sabtu.

Juru bicara polisi memperingatkan bahwa pihak berwenang telah "mengeluarkan peringatan terhadap tindakan ilegal". (*)

 

Berita Lainnya

17 Oktober 2020, 19:16 WIB

Menteri Luar Negeri Austria Positif Corona






Berita Terbaru

Rabu, 21 Oktober 2020, 21:26 WIB

Proses Pengerukan Kali Ciliwung Capai 80 Persen